Pesona Arsitektur Indonesia

Rumah tak semata tempat berteduh, melainkan juga wujud pandangan hidup, status sosial, dan kebudayaan suatu bangsa. Pembangunan rumah rakyat menjadi gambaran penting bagi para sultan dan raja jaman dahulu tentang kemakmuran di kerajaannya. Hal ini pula yang membuat Adelia dan Khayla Adisty Putri tertarik membuat teka teki silang tentang berbagai seni bangunan Indonesia.

Khayla & Adelia
Kayla & Adelia membuat layout ‘arsitektur Indoesia Fun Stuff’

Pembangunan rumah di Indonesia memang jauh lebih murah dibandingkan dengan Negara lain.  Tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya dan waktu. Penduduk Indonesia terbiasa melibatkan sanak famili dan para tetangga untuk mengumpulkan bahan pembangun rumah dari alam sekitar. Budaya gotong royong masih sangat kental terasa. Itulah sebabnya segala sesuatu menjadi murah, karena selalu dipikul bersama. 

Ciri khas yang lain arsitektur di Indonesia adalah, dibangun dengan menggunakan  bahan-bahan yang berasal dari alam.  Tanpa menggunakan paku dan dibuat hanya dengan menggunakan kayu yang disusun sedemikian rupa sehingga bangunannya dapat kokoh berdiri. Kayu dianggap sebagai bahan yang amat sesuai dan memenuhi syarat-syarat kehidupan di alam khatulistiwa yang tropis. Kebiasaan bersentuhan dengan kayu inilah yang  menjadikan banyak penduduk Indonesia terampil dalam mengolah kayu.

Dalam naskah-naskah Nusantara dari kurun abad ke-13 sampai ke-19 yang memuat kisah pembangunan dan pembinaan rumah di Kepulauan Nusantara. Nenek moyang kita ternyata ketika membangun rumah, dilakukan secara penuh perhitungan. Wujud perhitungan itu dituangkan dalam ukuran-ukuran tertentu seperti depa, ruang, hasta, buku, ketak, jengkal dan sependekap.

Yang lebih mengagumkan lagi, selain sebagai tempat tinggal, fungsi rumah di Indonesia juga memiliki keunikan tersendiri. Di Toraja, rumah juga berfungsi untuk menyimpan jenazah. Di Minahasa, rumah adat dibangun dengan konstruksi yang dapat dipindahkan. Sementara rumah Hanoi di Papua, dibagi menjadi tiga bangunan. Bangunan untuk pria, bangunan untuk wanita, serta bangunan untuk hewan. Hmm, sepertinya sejak dulu nenek moyang kita tidak mengenal LGBT  (lesbi, guy, bisekx, dan transgender). Mereka hanya mengenal pria dan wanita. Wuiidihh…keren sekali.

Agar tidak penasaran, kita nikmati saja salah satu permainan teka teki silang yang telah dibuat Adelia dan Khayla. Atau untuk lebih lengkapnya, kunjungi saja menu kami di ‘Indonesia Fun Stuff’ ……>>

Permainan tentang seni arsitektur Indonesia

Post Author: ikka hua

Tinggalkan Balasan