“Segala penemuan diawali dengan gambar !!”

 “Every discovery is started with picture!!”

Setelah sekian lama bergumul dengan berbagai literatur dan berkutat dengan ide ide untuk lebih mencintai Indonesia (ceile…^_^) akhirnya saya menemukan juga apa yang selama ini saya cari cari.

After long time dealing with literature and ideas to love Indonesia more and more. Finally, I found what I’ve been looking for.

Rasanya baru kemarin, saya dan teman-teman berkumpul dan mengenang masa kecil kami. Tak terhitung lagi berapa Terrabyte memori yang diperlukan untuk menyimpan semua kenangan yang bisa membuat kami tertawa, terbahak, terpingkal, cekikikan, cengar, cengir, atau bahkan menangis guling-guling.  Mulai dari dipelototi guru karena mencorat coret dinding sekolah sampai harus menghadapi ceramah para orang tua yang kawatir  dengan pilihan hidup kami sebagai seniman grafis. Wuihh…. (saat itu seni memang belum menjadi kebutuhan primer di Indonesia. Konsekuensi logisnya, kesejahteraan hidup sebagai seorang seniman masih jauh dari kata mapan, red)

It seems like it was just yesterday that i and my friends were gathering and remembering our childhood. I don’t know how many terabytes of memory needed to save all the memories that make us laugh out loud, giggle, grin, and cry like a baby. Starting from getting on our teacher’s nerves for scratching the school wall and we had to listen to our parents’ speech who were worried about our life choice as graphic artist. Whoho (at the time art wasn’t be the major necessity in Indonesia, as a consequence of that, being an artist was still far from an established life).

Tapi kami patut bersyukur bahwa  para orang tua di Indonesia selalu menjadikan seni sebagai bagian dalam kehidupan sehari hari kami.  Mereka membiarkan kami untuk belajar mengenal bentuk bentuk geometris melalui helaian benang yang kami tenun. Mereka membiarkan gambar karakter yang kami buat menjadi bagian dalam kegiatan membatik. Atau mereka sengaja membiarkan kami tidur lewat tengah malam karena menikmati pertunjukan wayang yang mempesona. Keistimewaan-keistimewaan tersebut tanpa kami sadari semakin membuat kami semakin mencintai gambar.

But we were still grateful that our parents took art as part of our daily life. They let us learn geometrical shapes through every sheet of yarn we weaved. They let our animated pictures as part of “membatik” activity, or just letting us stay up late enjoying an amazing puppet show. Those special treatments made us love pictures or sketches more unconsciously.

Bila seorang bayi boleh tumbuh menjadi dewasa, maka ikka hua.com juga mengalami hal yang sama. Saat ini kami lebih berfokus pada penerbitan naskah cerita bergambar. Naskah dalam arti luas, berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan “cerita”, baik itu fiksi ataupun non fiksi. Entah itu dalam bentuk novel, cergam, komik, ataupun  film animasi.

If a baby grows up, ikkahua.com  also will experience the same thing. For now, we focus on the publication of illustrated manuscripts. The manuscript in a broader sense means everything related to “story” either fiction or nonfiction. Either in the form of novels, cergam, or animated films.

Untuk lebih mengenalkan diri, berikut ini adalah petikan wawancara bersama Ikka Hua. Meskipun sedikit “hancur” dan agak “ngawur”, namun semoga bisa membuat anda sedikit mempunyai gambaran tentang sosok Ikka Hua…..

To further introduction, here are some quotes of the interview with Ikka Hua although it’s a little “messy”  and a bit “miserable”, but hopefully can make have a little figure of Ikka Hua

MENGAPA IKKA HUA ???

Why Ikka Hua ???

hmm…kenapa ya…anu…itu…apa ya…hmmm..mungkin…itu lho…hmm… karena anak kecil suka menangis hua…hhuuaa…hhhhuuuuaaaa….

Hmm… why? Hmm… maybe because children love crying hua … hhuuaa … hhhhuuuuaaaa …

JADI WAKTU KECIL SUKA MENANGIS YA ?

so you cried a lot when you were a little kid, didn’t you?

Bukan…bukan…bukan begitu maksudnya. Waktu kecil saya tipe anak yang pendiam dan pemalu. Jadi kalau ada anak lain yang gangguin, diam diam saya suka ambil batu lalu nimpuk tuh anak sampai nangis kenceng….hua…hhuuaa…hhhhuuuuaaaa….gitu.

No no no, it’s not what i mean. When i was child, i was kind of quiet and shy, so If there were other children that interfered with, secretly I would take a stone and then throw him to cry madly … hua … hhuuaa … hhhhuuuuaaaa …

Sedikit pemalu juga, malu kalau gak ikut-ikutan ngompol di celana. Malu kalau sampai ketinggalan naik pohon kersen, malu dong kalau sampai kalah main gobak sodor…pokoknya pemalu banget.

 A little shy too, i felt embarrassed when i didn’t piss my pants just like the others, was left behind in climbing kersen tree, also when i lost playing gobak sorong. I was a total shy.

LALU KETIKA AGAK BESAR ?

SO,WHEN YOU WERE A TEENAGER ?

my loveland Indonesia

Pas agak besar, guru guru suka mengikutkan menyanyi bersama di radio atau drama perpisahan (sstt…waktu itu siaran tv masih terbatas. Aduh…jadi malu ketahuan tuanya). Trus sempat jadi suara pohon yang terinjak raksasa. Paling ingat suara tawa raksasa pas nginjek pohon…. hua…hhuuaa…hhhaaaaa….haaaa…sejak itu suara tawa mirip  raksasa itu paling sukses bikin anak kecil-kecil ketakutan. Bahkan ada anak tetangga yang susah makan, begitu dengar ada yang niruin suara raksasa, dia jadi ketakutan dan makan dengan lahap. Duhh…rasanya perkasa banget waktu mengucapkan hua…hhuuaa…hhhhuuuuaaaa

when i grew up, my teachers would take me to sing on the radio or participate in a school drama (sstt… at that time, TV broadcasts were still limited. I once became the voice of a tree trampled by a giant. What i remember the most was the voice of the giant when he was trampling upon the tree.. Hua…hhuuaa…hhhaaaaa…haaaa… ever since that moment, the giant-like voice has been successful of making the children freak out. Even worse, there was a kid in my neighborhood who didn’t like to eat and every time she heard the giant-like voice, she had a total meltdown and she would eat with gusto. Hmm… I felt very robust when i was saying hua…hhuuaa…hhhhhhhhhaaaa.

LALU KETIKA “AGAK BESAR SEKALI” ?

THEN, WHEN YOU’RE RATHER OLD  (AS YOUNG ADULT) ?

(ke arah kameramen) Tunggu…tunggu…tunggu dulu…kalimat ‘agak besar sekali’ sama tidak dengan kalimat ‘mulai tua’…..Apa??? Berbeda ya? Baiklah, mari kita lanjutkan interview ini….

(to her cameraman) wait…wait…wait, the word “rather old” is the way with ‘getting old’ what??? It is totally different.OK Let’s continue this interview…

ketika agak besar sekali, saya mulai belajar hidup terpisah dari orang tua. Saya menyewa rumah yang letaknya sangat strategis. Jarak antara ruang tamu, kamar, dapur sangat berdekatan. Sehingga jika saya membuat secangkir coklat hangat untuk teman menulis, akan tetap hangat saat sampai di depan komputer. Cukup strategis bukan? Bayangkan, jika letak ruang tamu, kamar, dan dapur sangat berjauhan, pastilah secangkir coklat hangat sudah berubah menjadi es coklat saat sampai di depan komputer.

As a young adult, i started living away from my parents. I rented a house  which was very strategic. The gap between the living room, bedroom, and kitchen is very close to each other. So when i was making a cup of hot chocolate as a friend for writing, it would stay warm when i put it in front of my computer. Strategic enough, right? Imagine, if the location of the living room, bedroom, and kitchen is far away, definitely a cup of hot chocolate would turn into an iced chocolate when i put it in front of my computer.

Reporter : (mulai kebingungan) HUBUNGANNYA “AGAK BESAR SEKALI” DENGAN “IKKA HUA” APA ?

Reporter : (getting confused) what is the relation between “GETTING RATHER OLD” with “IKKA HUA” ?

Aduh..sabarr…gan….nah dari rumah sewaan yang cukup strategis itu, saya punya tetangga yang suka memelihara ayam. Tuh ayam kayaknya masuk barisan FBI (Fans Berat Ikka). Buktinya suka banget nangkring, kongkow-kongkow di teras rumah. Kalau sekedar nongkrong bareng sih mendingan. Lha ini pake acara pup bareng.

Please, don’t get so impatient, guys…. from that strategic house, i had a neighbor who likes chicken. Those chickens seemed like belonging to FBI (Fans Berat Ikka/ big fan of Ikka). No wonder, they would stand at my terrace. If just moving back and forth, that would be fine, but they would poop together.

Weeikss,…..berbagai cara untuk mencegah para ayam untuk pup di teras mulai kugalakkan. Mulai dari teknik ’lempar batu sembunyi tangan’ sampai ‘workshop toilet training bagi para ayam‘  ^_^..sedikit lebay ya…. Yang pasti mulai saat itu setiap kali ada ayam yang celingak celinguk mau masuk teras. Refleks saya akan teriak teriak hua…hhuuaa…hhhhuuuuaaaa…. Cukup mujarab untuk membuat para ayam lari terbirit-birit.

Weeikss…. so many ways that i had done to prevent those chickens from pooping on my terrace were started. Start from the technique of ‘lempar batu sembunyi tangan/ pass the buck’ until ‘workshop toilet training ‘for chickens. ^_^.. a bit exaggerated. Ever since then, whenever there’re chickens approaching my terrace, I would shout out hua…hhuuaa…hhhuuuuaaaaa….. it worked well to get rid of those chickens.

(semakin kebingungan) LALU MENGAPA IKKA HUA ???

(GETTING MORE CONFUSED) SO, WHY IKKA HUA?

(semakin tidak mengerti) hmm…kenapa ya…anu…itu…apa ya…hmmm..mungkin…itu lho…hmm… ITU KAN PANGGILAN SAYA SEJAK KECIL. KAN TIDAK MUNGKIN SAYA NYURUH ORANG MANGGIL SAYA…BHINNEKA TUNGGAL IKKA TAN HANA MAGNA CHARTA IBUKOTA JAKARTA…..pfff, gitu aja kok ditanyakan.

(getting worse) hmm…. why??? Hhhhhh.. may be….hhmmmm… that is how people call me since I was little kid and it’s impossible for me to tell people about how they’re supposed to call me. BHINNEKA TUNGGAL IKKA TAN HANA MAGNA CHARTA IBUKOTA JAKARTA…..pfff, that’s not important to be asked

Reporter : (tambah semakin bingung)

Reporter : (getting more confused)

(*Akhirnya daripada anda semakin bingung karena membaca wawancara ini, saya sarankan anda terus menikmati kiriman karya dari teman teman pecinta animasi…>> selengkapnya).

(*finally, instead of getting confused reading this interview, i suggest you to keep enjoying the animated works of our friends in Indonesia…>> enjoy it) –ikkahua-